Minggu, 03 November 2019

Koboy Kampus

Kali ini aku tidak akan membuat resensi buku karya Pidi Baiq. Foto itu adalah sampul belakang buku novel karya Pidi Baiq yang berjudul Koboy Kampus. 

Buku itu ditemukan di kamar ponakanku, tergeletak di atas meja belajarnya. Aku memang belum sempat membaca isinya. Kalau membaca sekilas sih udah. Kalimat yang tertera di sampul belakangnya itu telah membuatku menggingat kampus ungu yang dulu tempatku menuntut ilmu. 

Seperti yang ditulis Pidi Baiq bahwa orang-orang harus tau, kampus itu adalah romantisme dan sisanya perjuangan. 

Setuju banget deh, dengan Pidi Baiq. Kampus unguku penuh dengan romantisme. Romantisme yang terjadi antara mahasiswa dengan mahasiswa lagi, mahasiswa dengan dosen dan antara mahasiswa dengan tugas tugas kuliah, atau mahasiswa dengan aktivitasnya di kampus. 

Ya kampus kita tercinta itu sampai kapan pun akan penuh romantisme dan perjuangan yang tak akan mudah untuk dilupakan.

Diary Usang Episode 5

14 tahun berlalu sejak aku memutuskan Dion, sejak Dion meninggalkanku. Aku kembali mengingatnya. Lagi lagi karena diary usang yang kutemukan di laci lemari bututku. 

Meski kini aku sudah tak sendiri lagi, meski aku tak tau sekarang Dion ada di belahan bumi yang mana. Bayang-bayang masa silam itu benar-benar terkuak kembali.

" Assalamualaikum, Lily gimana kabarnya? Aku berharap kamu selalu ada dalam lindunganNya. Aku mohon kamu datang ya nanti di acara resepsi pernikahanku. Surat undangannya nanti nyusul. Wassalamualaikum."  bunyi pesan masuk ke gawai milikku itu telah membangunkanku dari tidur siang waktu itu. Tepatnya 12 tahun yang berlalu. Aku segera meraih gawai yang tergeletak di samping. Jari jari yang tak lentik ini dengan cekatan membuka pesan tersebut. 

" Dion " spontan aku menyebut nama lelaki yang hampir tak ingin ku kenang lagi. 

" Dari mana dia tau nomor hapeku? " aku bertanya dalam hati kecilku.

" Dion mau menikah? " pertanyaan pertanyaan untuk Dion terus berkecamuk dalam benakku.

Beberapa saat aku termenung, memikirkan kalimat apa yang harus aku tulis untuk Dion sebagai jawaban atas pesannya itu. 

" Waalaikum salam, alhamdulillah kabar baik. Aku kaget lho kok tiba-tiba kamu berkirim kabar padaku. Kabar bahagia rupanya. Selamat ya, akhirnya kamu benar- benar telah menemukan tambatan hati yang sesungguhnya. Seorang perempuan yang tentu saja cantik dan soleha pilihanmu dan tentunya Allah takdirkan untuk menjadi pasangan hidup. Aku doakan semoga rumah tangganya sakinah, mawadah, warohmah. "

Untaian kata itulah yang aku tulis sebagai balasan pesan Dion padaku. Aku tak sedikitpun berfikiran akan datang ke acara resepsi pernikahan Dion. Akan ada kedua orang tua Dion yang selalu memandang sebelah mata kepada perempuan dari kasta terendah ini. Itulah kenapa saat itu aku nekat memutuskan Dion. 

Hanyalah tulisan yang ada di dalam buku diary usang itu yang menjadi memory kisah kasihku bersama Dion. 

Mungkin saja aku dalam ingatan Dion dan kedua orang tuanya hanya seonggok sampah yang tak patut untuk dikenang. 


Tamat

Diary Usang Episode 4

Aku membolak balik buku diary yang bersampul seorang perempuan dengan rambut yang tergerai dan panjang sebahu. Halaman demi halaman aku buka. Hurup demi hurup berjejer rapi, kata demi kata kurangkai dengan indah, kalimat demi kalimat tersusun penuh makna. Tulisan yang bercerita tentang Dion mang tidak banyak di dalam buku diary itu, Aku menemukannya hanya di bagian tengah dan terselip di antara cerita ceritaku tentang kisah hidupku di masa lalu yang berhubungan dengan ketakberdayaanku yang tak mampu membantu keluarga untuk lepas dari serba kekurangan hidup. 

" Sudahlah Dion, hubungan ini kita akhiri sampai di sini. Aku ngga mau orang tua kamu akhirnya tau kalau kita pacaran. " 

aku masih ingat kalimat putus itu keluar dari bibirku, meskipun diary usang itu tak menjelaskan secara detail tentang proses pisahnya aku sama Dion. 

" Mulai detik ini kita hanya sepasang sahabat ya?!" kataku lagi. 

Dion menundukan kepala, wajah tampannya sudah tak mampu kutatap lagi. Aku tau, Dion pasti tak akan bicara sepatah kata pun. Kata putus yang selalu kukatakan padanya mungkin saja sudah menjadi klimaks dalam hubunganku dengannya.

" Dion! ". Aku memanggil lelaki itu Setengah teriak. 

Dion tetap melangkahkan kakinya menjauh dariku. Langkah kaki itu tak mungkin dapat kukejar. Postur tubuh yang tinggi membuatnya lebih cepat meninggalkanku.

Diary usang yang tersimpan rapi di laci lemari bajuku entah sampai kapan dapat kuenyahkan dari pandanganku. Setiap kali aku membacanya, selalu ada sapuan sesal yang menyentuh sampai ke dasar lubuk hatiku.

" Maafin aku, Dion." kata maaf itu sebenarnya sering aku ucapkan berkali kali. Setiap aku mengingat sosok lelaki yang dahulu pernah mengatakan bahwa dia akan menjadi sandaran hatiku, maka kuucapkan kata "Maaf" itu. 







Sabtu, 02 November 2019

Diary Usang Episode 3

Dion menghapus butiran air mata yang berjatuhan di atas pipiku. Jari-jari dan tangan kokohnya terasa lembut kurasakan. Aku seperti mempunyai kekuatan untuk tetap tegar dengan keadaanku saat ini.

" Sudahlah, tak usah mendramatisir keadaan kamu sampai sebegitunya Ly. " kata Dion. 

" Allah tidak akan memberikan cobaan, di luar batas kemampuan hambanya." kali ini Dion layaknya sang penceramah. Aku semakin salut pada lelaki itu. Bukan hanya karena dia keturunan orang kaya dan mempunyai fisik yang istimewa, tapi karena dia pun selalu saja pandai menyejukan hatiku.

Panas terik berganti mendung, langit biru sudah tak cerah lagi. Kutatap gumpalan awan berarak semakin mendekati tempatku dan Dion berpijak. 

" Terimalah kado dariku ini,  Ly! ". Dion kembali menyodorkan boneka Dora Emon yang tadi sempat tak kuhiraukan. 

" Terimakasih Dion". Kataku sambil kuraih si Dora Emon yang tingginya hampir sepinggang dariku. 

" Dion kamu tau engga, kenapa aku begitu menyukai karakter Dora Emon?. 

" Enggak!. " Dion menjawab dengan singkat. 

" Karena aku ingin seperti Dora Emon yang mempunyai pintu kemana saja, baling-baling baling bambu dan saku ajaib. " aku begitu bersemangat.



Jumat, 01 November 2019

Puisikoe Awal November Part 2






JATUH CINTA

Aku pernah jatuh cinta
Pada kuntum bunga yang belum mekar

Aku pernah jatuh cinta
Pada mentari yang belum bersinar

Aku pernah jatuh cinta
Pada cahaya rembulan yang temaram

Aku pernah jatuh cinta
Pada angin yang tak berhembus

Aku pernah jatuh cinta
Pada gelombang yang surut

Aku pernah jatuh cinta
Pada hujan yang tak jua turun

Dan ...

Aku pernah terluka
Karena jatuh cinta




Puisikoe awal November Part 1

KEKASIH

Keksasih ...
Ingatkah kau
Kala mentari perlahan menepi
Tenggelam di antara deburan ombak

Di atas batu karang yang menjulang
Semilir angin senja dan lembayung jingga
Kita berdua memandangi hamparan samudera

Kita sama sama membisu
Bibirku kelu
Hanyalah nyanyian burung camar 
Merdu terdengar 

Kau ambil batu kerikil yang terselip 
di sela sela rerumputan
Sementara kuncup bunga liar 
Mekar dan memaksaku untuk memetiknya

Malam menjelang 
Sang raja siang pun kembali ke peraduannya
Kita turun menyusuri jalan setapak

Ada tanya dalam hatiku 
Akankah kisah kita abadi

Dan apakah hatimu seluas samudera itu
Untuk menerima segala kekuranganku




November rain 2019 

Rabu, 30 Oktober 2019

Diary Usang Episode 2

Aku berlari tak tentu arah dan tujuan. Keramaian jalan Siliwangi tak kuhiraukan, panas terik menyengat tak lagi kugubris. Orang orang yang berlalu lalang di jalan itu mungkin saja memperhatikanku dengan heran. Aku tak peduli dengan semua itu. Mereka tak akan pernah tau apa yang telah terjadi padaku. 

Aku ingin segera sampai ke suatu tempat di mana Dion tengah menungguku. Aku tak tau kenapa Dion hanya mengabarkan bahwa dia ingin bertemu denganku untuk membicarakan hal penting katanya. 

"Hal penting apa yang dimaksud Dion?selama ini kami tak pernah bermasalah. Hubungan kami baik baik saja. " pikiranku terus saja berkecamuk. 

Sepanjang keramaian jalan itu akhirnya telah aku lewati. Keringat mengucur di sekujur tubuh dan membasahi baju lusuhku. 

Dion mengatakan bahwa dia ingin bertemu denganku di sebuah tempat yang biasa aku datangi. Dulu sewaktu aku masih belum menjadi kekasih Dion, aku biasa menghabiskan waktuku di situ. 

" Lily! Aku di sini" teriak Dion. Aku mengalihkan pandanganku ke arah sumber suara. Tidak jauh dari tempatku berdiri, Dion tersenyum kepadaku.

"Huh ... Aku cape Dion! ". Aku menarik nafas dalam dalam. 

Dion tetap bergeming di tempatnya berdiri. Sebuah boneka Dora Emon berukuran besar berada dipangkuannya. Tinggal beberapa langkah lagi aku sampai kepada lelaki itu. 

" Kamu mau ngomong penting apa sih?  Aku Penasaran tau. " kataku. Nafasku masih ngos ngosan. Rasa cape hampir sudah terlupakan. 

" Happy Birt Day ! Selamat ulang tahun Lily! " . Dion menyodorkan boneka Dora Emon yang sedari tadi tak dilepaskan dari pelukannya. Mataku terbelalak. Bukan karena aku bangga karena ternyata Dion mau mengingat hari kelahiranku, tapi karena aku merasa kesal dengan ulah Dion. Aku pikir Dion ingin menyampaikan sesuatu padaku, tapi ternyata dia hanya ingin memberikan kejutan saja. 

" Hari ini ulang tahun kamu Lily! " Dion mendekat ke arahku. Aku hanya diam saja, tak ingin Bersuara.

" Hey,  Lily! " Dion menepuk pundakku. 

" Semua ini ngga penting buatku, aku tidak terbiasa mengingat hari kelahiranku. Apalagi merayakannya. Semuanya ga akan pernah terjadi dalam kamus hidup aku. " 

Aku tak sanggup lagi melanjutkan ucapanku, bibirku terasa kelu. Mataku mulai panas, setetes air mata tiba tiba jatuh mengalir di pipiku. 

" Lily ... !" Dion kembali berkata lirih. 

Aku ini orang miskin, hidupku penuh dengan penderitaan. Seluruh keluargaku tak pernah mengingat hari kelahirannya. Kami lebih banyak memikirkan bagaimana agar kami dapat bertahan hidup dengan serba keterbatasan. Aku lebih ingin mengingat bagaimana caranya agar aku dan kakak kakakku dapat sekolah. Kami mempunyai cita cita untuk merubah nasib kami. Kami ingin mengangkat derajat bapak dan ibuku agar tidak dihina orang. 

Aku menangis sesenggukan. Dion memberikan bahunya agar aku dapat bersandar dan meluapkan segala keluh kesahku kepadanya. 






Koboy Kampus

Kali ini aku tidak akan membuat resensi buku karya Pidi Baiq. Foto itu adalah sampul belakang buku novel karya Pidi Baiq yang berjudu...